"Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan." { Wahyu 4:11}

Tuesday, January 18, 2011

Teologi Asia


Sedang Mencari Bentuk
Perjalanan dari seorang yang berperut sangat gendut samapai menjadi seorang anak muda yang sangat ganteng (dari seorang pemalas dan buruk rupa menjadi seorang pangeran yang berseri-seri) merupakan sebuah perjalanan yang panjang, menyakitkan dan melelahkan. Dan untuk mengubah sebuah impian menjadi kenyataan, kita harus melewati sebuah perintah yang kadang tidak masuk akal, memaksa seseorang untuk bermimpi, dan berkomitmen penuh untuk melakoni petualangan yang pada awalnya terlihat menakutkan dan tak terduga.
Demikianlah halnya dengan Teologi. Teologi Kristiani di Asia merupakan sebuah petualangan dengan beban yang sangat berat, seperti Si Gendut. Teologi Kristen Asia kegendutan karena dipenuhi dengan sekolah-sekolah teologi, teori-teori tafsir Kitab Suci, pandangan Kristen tentang budaya dan agama, semua berasal dari Gereja Barat dan dikemukakan oleh teologi tradisional. 

A. SITUASI UMUM ASIA
1. Kemiskinan 
Hampir semua negara di Asia digolongkan dalam kelompok ‘Dunia Ketiga’. Istilah ‘Dunia Ketiga’ sendiri merupakan istilah yang dipakai dalam rangka menjelaskan sebuah situasi ekonomis terbelakang (kemiskinan) dan juga sosio-kultural, politik dan berbagai segi yang lain dari suatu kelompok/negara dalam sebuah skala global. Namun istilah ini oleh A. Pieris diartikan sebagai “putra-putri Yakub yang kelaparan―dari segala tempat dan di segala zaman―yang pergi mencari makan ke negara kaya, hanya untuk menjadi budak-budaknya.” Oleh karena itu, istilah ini lebih merupakan sebuah peristiwa ketergantungan sosio-ekonomis dalam kaitan dengan ras, klas, seks, dan munculnya perbudakan politik dan kultural atasnya.
Jika pemahaman istilah ini ditarik ke dalam pemahaman teologis, maka akan terbentuk sebuah pengertian baru yang lebih mendasar dan berarti. Pieris dalam bukunya yang sama memahami perihal Dunia Ketiga ini dengan menarik konteks umat Israel yang menjadi budak di Mesir sebagai landasan untuk menelusuri konteks teologisnya. Baginya, sebagaimana umat Israel yang baru dipanggil setelah mengalami situasi perbudakan di Mesir, umat Dunia Ketiga juga seharusnya mendapat tempat selayaknya sebagai umat baru yang mengabarkan kehadiran Allah yang membebaskan manusia dari berbagai perbudakan dan kekejaman.

2. Pluralitas
Situasi sosio-kultural Asia menunjukkan suatu keunikan yang tidak terdapat di belahan bumi lainnya, yaitu pluralitas atau kemajemukan. Pluralitas itu antara lain meliputi agama, budaya, politik, ras, dan lain-lain. Diantara hal-hal ini yang paling menonjol adalah pluralitas agama dan budaya. 
Dalam hal agama, Asia merupakan tempat lahirnya berbagai agama besar di dunia antara lain―dalam idiom ras-linguistik masing-masing―Semit (Yudaisme, Islam, dan Kristianitas), India (Hinduisme, Buddhisme, dan Jainisme), dan Cina (Konfusianisme dan Taoisme). Agama-agama ini sudah menyebar melintasi batas-batas linguistik bahkan melistasi benua-benua dan dengan demikian melahirkan banyak kebudayaan-kebudayaan turunan. Kebudayaan-kebudayaan turunan ini terjadi karena terjadinya perpaduan antara satu agama dengan agama yang lain (bahkan dengan agama-agama asli sekalipun) dan dengan budaya-budaya lain dimana agama itu berkembang. Perpaduan ini sekaligus memberi warna-warni pada peradaban Asia pada umumnya. 


B. TEOLOGI ASIA SEKILAS PANDANG
Teologi Kristen Asia tidak bisa dipahami jika tidak dikaitkan dengan latar belakang yang dipaparkan di atas. Teologi ini seharusnya merupakan sebuah gambaran akan pengalaman hidup menggereja dan refleksi atas pengalaman itu. Maka di sini perlu dijelaskan terlebih dahulu di jelaskan term yang sering digunakan dalam kerangka menjelaskan situasi dan perkembangan Gereja di Asia. Ada dua term yang digunakan, yaitu Gereja di Asia dan Gereja dari Asia. Teologi di Asia merujuk pada kenyataan bahwa Gereja di Asia sebenarnya masih berupa produk yang diekspor dari Barat. Karena itu, Gereja masih menempatkan diri sebagai kaum asing yang berusaha untuk menerapkan budaya Kristen Barat dalam Gereja lokal Asia dan secara keliru mengadopsi budaya lokal ke dalam Gereja. 
Menanggapi hal ini, Pieris melihat empat perangkap dimana Gereja sering terjebak di dalamnya. Pertama, pemribumian terjebak dalam vandalisme teologis. Hal ini bisa tampak dalam pembajakkan etos soteriologi budaya Timur dan dijadikan sebagai alat untuk membantu doa Kristiani tanpa menghormati pengalaman religius orang-orang non-Kristiani. Kedua, kecenderungan untuk menciptakan atau membudayakan ‘klas bermalas-malas’ melalui pusat-pusat doa yang menarik orang-orang kaya ke pesona singkat ketenangan mental daripada ke suatu ke suatu tingkat pengingkaran. Ketiga, komersialisme harta rohani Timur ke dunia Barat, dimana harta rohani itu diambil dari dunia Timur, diolah secara lebih baik di Barat dan kemudian dijual kembali ke dunia Timur. Dan keempat, adanya kecenderungan konsumerisme religius dimana warisan spiritual Timur dijadikan sebagai alat untuk menumpuk mamon dalam tembok-tembok kaum religius. 
Membangun Gereja dengan model pendekatan seperti ini tentunya lebih banyak mengandung bahaya dan merugikan Gereja sendiri ketimbang membawa angin pembaruan ke dalam budaya lokal. Oleh karena itu, Gereja sebaiknya membangun Gereja dalam konteks yang baru, yaitu membangun Gereja dari Asia. Istilah ini sekaligus mengandung suatu imperatif bagi Gereja untuk ‘dibaptis’ dalam tradisi-tradisi Asia dan bukan lagi membaptis. Tindakan seperti ini telah ditunjukkan oleh Yesus sendiri dengan sangat baik ketika Ia membiarkan diri dibaptis oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan. Gereja Kristen dari Asia pun dipanggil untuk menjadi Gereja yang belajar (ecclesia discens) dan bukan Gereja yang mengajar (ecclesia docens). Maka Gereja dipanggil untuk berani melakukan revolusi eklesiologis dengan jalan baptis ganda dalam agama dan kemiskinan. 

1. Yordan Agama Asia
Pembaptisan Yesus oleh Yohanes merupakan isyarat profetis Yesus yang pertama. Ketika Yesus dihadapkan pada beberapa aliran religius tradisional, tetapi Yesus tidak tertarik dengan yang lain selain tradisi asketisme profetis kuno yang ditampilkan oleh Yohanes Pembaptis. Pilihannya ini karena IA menganggap bahwa dalam bentuk kereligiusan ini terdapat panggilan liberatif. Yohanes yang hidup ‘bersama alam’ membawa pembebasan bagi ‘kaum miskin religius’. Ketika Yesus ingin dibaptis oleh Yohanes maka Ia menempatkan diri sebagai salah seorang dari ‘kaum miskin religius’ itu. Dan saat pembaptisan itu sendiri merupakan sebuah titik pertemuan dari dua aliran spiritualitas.
Implikasinya bagi Asia, yaitu bahwa Gereja Asia dipanggil untuk melakukan hal yang sama, yaitu untuk berada pada titik pertemuan antara spiritualitas metakosmis dari agama-agama monastik dan agama-agama kosmis petani sederhana. Gereja dipanggil untuk menjadi rendah hati seperti Yesus sendiri karena dalam kerendahan hati itulah Gereja memiliki otoritasnya, “Dengarkanlah Dia”.
Akan tetapi masih ada halangan yang muncul, yaitu Gereja takut kehilangan identitas dalam pertemuan itu (lebih pada identitas Gereja Barat) dan sekaligus takut kehilangan tempat di Asia. Maka yang muncul kemudian adalah proyek inkulturasi. Proyek ini sendiri bisa dibilang kurang berhasil karena Gereja di Asia pada posisinya haruslah Gereja lokal. Akan tetapi kenyataan bahwa para penginjil adalah didikan ala Barat. Maka mereka kemudian berseru ‘Gereja belum merakyat’. Pertanyaannya adalah “Rakyat yang mana?” 
Maka yang terjadi kemudian adalah Gereja secara gegabah memasukkan semua unsur kebudayaan lokal dalam Gereja tanpa mempertimbangkan makna holistik dari kebudayaan itu. Bahkan orang Buddha di Thailand sampai menganggapnya sebagai perampasan demi keuntungan Kristen. Lebih jauh lagi seorang pendeta sampai menganggapnya sebagai sebuah tindakan pengelabuan mata untuk menghancurkan massa orang Budha yang bodoh dan menjadikan mereka pemeluk Kristen dengan menggunakan sumber keuangan Gereja yang besar.

2. Kalvari Kemiskinan Asia
Jalan yang menghubungkan Yordan dan Kalvari adalah kemiskinan. Pilihan Yesus untuk dibaptis oleh Yohanes karena spiritualitasnya yang membebaskan, dimana Yohanes sendiri telah meninggalkan kekuasaan dan kekayaan sedemikian radikal sehingga ia memperoleh otoritas yang besar pula dihadapan kaum miskin untuk berbicara tentang Allah. Yeesus juga memiliki cara yang sama dalam berbicara tentang Allah, yaitu dengan menunjukkan keberpihakan pada kaum miskin dan lemah dalam tindakan dan pewartaan-Nya. 
Sebagai akibatnya, seperti Yohanes yang dipenggal, Yesus juga harus menyelesaikan perutusanNya di atas Salib. Tetapi justtru dalam peristiwa Yordan dan Salib itu otoritas profetis Yesus diakui; di Yordan IA adalah Putera Allah yang terkasih dan di Salib Ia diakui sebagai “sungguh-sungguh Putera Allah” (Mrk 15:39). 
Mengikuti teladan sang Guru, Gereja dipanggil untuk menjalani perutusan yang sama, yaitu pengutusan dari kaum miskin dan pengutusan kepada kaum miskin, pengutusan oleh kaum miskin dan pengutusan bagi kaum miskin. Caranya adalah dengan “membangkitkan dalam kaum miskin dimensi liberatif dari kereligiusan Asia, baik Kristiani maupun non-Kristiani”. Maka para teolog Asia dewasa ini lebih suka menyebut model teologinya dengan Teologi Pemerdekaan. 
Dengan menyebutnya sebagai Teologi Pemerdekaan, para teolog sadar bahwa panggilan profetis Gereja bukan hanya terlibat dalam masalah religiusitas dan budaya tetapi juga merupakan Gereja politis. Hal ini mengingat bahwa situasi Asia juga terbelenggu dalam kemiskinan politis yang berakibat pada berbagai tindakan penindasan dan ketidakadilan kepada kaum miskin dan yang memperparah kemiskinan itu sendiri.

C. CONTOH TEOLOGI ASIA
1. Teologi Rahim (Dr. Choan Seng Song)
(Buku acuan utama : Third Eye Theology, 1991)

a. Who Is Dr. Choan Seng Song
Song adalah guru besar Tehology and Asian Culture pada Pacific School of Religion. Ia juga seorang profesor tetap teologi pada South East Asia Graduate school of Thelogy di Singapura dan Hongkong. Ia adalah seorang pendeta Gereja Presbyterian di Taiwan.

b. Konteks Teologi Song
Song mencurahkan perhatiannya pada kesadaran akan teologi yang berwajah Asia. Song berkeyakinan bahwa semestinya para teolog Asia berkewajiban mengkomunikasikan teologi kristiani yang mudah dipahami oleh orang asia dalam konteks Asia. Hal ini bertujuan agar kristianitas tidak tinggal tetap sebagai suatu yang asing di bumi Asia. Sebab kristianitas yang diimpor dari Barat, telah dibentuk dan dibungkus oleh kebudayaan dan filsafat Barat. Dalam hal ini, wajah Allah juga harus berwajah Asia. Artinya bahwa teologi Asia haruslah lahir dari rahim Asia dan dalam konteks Asia.
Teologi Song juga dipengaruhi oleh teologi pembebasan. Dengan mengadopsi kritik Marx atas agama dan kapitalisme, Song mengedepankan kebebasan manusia dan keadilan sosial dalam konstruksi teologinya. Orang Asia menurutnya telah menjadi orban penindasan industrialisasi dan modernisasi Barat. Situasi ini juga menyebabkan krisis identitas kultural (kehilangan identitas kultural sama dengan kehilangan the root of being).
c. Sekilas Tentang Teologi Rahim
Teologi rahim merupakan sebuah refleksi terhadap act of creativity yang terwujud pada awal sejarah manusia, yaitu pada proses inkarnasi yang bermula dalam rahim seorang wanita, Maria.
Rahim menurut Song adalah saat teduh, titian harmoni yang mengantarai misteri roh dan jiwa, dengan daging dan darah. Rahin dalam hal ini sebuah pengalaman universal dan karena keuniversalitasnya itu semua manusia dapat dipertautkan dalam sebuah relasi pertalian darah (kinship). Dari pemaparan ini dapat dilihat bahwa teologi Song terletak pada komunitas dan pembentukannya.

1) Teologi Ketaatan
Song mengangkat magnificat Maria sebagai sebuah kidung kesetiaan. Kesetiaan ini dimungkinkan oleh relasi cinta. Hal ini memungkinkan pengenalan yang mendalam dan intim. Relasi ini memungkinkan Maria taat, bukan ketaatan hamba atas tuan tetapi ketaatan atas dasar cinta. Dalam Maria tersingkap gambar Allah yang sejati. 
Dalam rahim, Allah yang mahakuasa mewahyukan diriNya dalam kelembutan sebagai Allah yang penuh kasih, penyayang, jauh dari kesan patriarkal-maskulin. Ia Allah yang feminin. Dimensi feminitas ini menjadikan magnificat Maria sebagai sebuah doksologi ketaatan.

2) Teologi Komitmen
Creation is an act of commitment. Penebusan merupakan suatu komitmen Allah pada manusia. Ia mengembalikan manusia pada humanitas sejatinya yang terampas oleh kedosaan manusia. Hal ini terutama berkaitan dengan persoalan generasi (prokreasi)
Dalam rahim Maria (wanita), passion Allah bersatu dengan passion manusia. Maria dan setiap ibu sungguh menyadari arti kebersatuan cinta itu. Setiap benih yang tersemai dalam rahim, setiap suka duka dalam merawat dan melahirkan merupakan hasil pertalian passion itu. Karena itu, teologi rahim sebenarnya menyerukan suatu pilihan untuk berkomitmen. Dengan kata lain, teologi rahim merupakan suatu panggilan untuk berkomitmen pada misi pembebasan mesianik, yakni komitmen untuk mewujudkan suatu hidup dan tata dunia baru.

3) Teologi Pengharapan 
Teologi rahim menampilkan juga harapan. Benih dalam rahim terbungkus oleh harapan tertentu, ia merupakan benih harapan. Sebagaimana dalam rahim Maria, inkarnasi, yakni perjanjian penebusan yang dijanjikan Allah dan diharapkan manusia dalam selurh sejarah penyelamatan memperoleh pemenuhannya. Dalam artian ini rahim wanita diasosiasikan dengan manifestasi karya penebusan Allah dalam sejarah. Itulah cinta yang menghadirkan janji penebusan, Imanuel (God is with us and with God).



4) Komunitas
Song memandang komunitas dan pembentukannya menjadi tema sentral dalam teologi rahim. Baginya, komunitas selalu merupakan sebuah entitas historis, seperti kelaurga, bangsa, juga sebagai realitas kosmik seperti dalam penciptaan. Dan bahwa pusat dari komunitas dan proses pembentukannya adalah daya kreatif dan generatif rahim manusia.
Komunitas yang beerpusat dan mengalir dari daya rahim, bagti Song, semestinya menjadi ikatan universal yang menyatukan selkuruh manusia dalam suatu kinship. Song mengeksplorasi dimensi ini secara mendalam dengan merefleksikan silsilah Yesus Kristus dalam awal Injil Matius dan Lukas. Baginya, pemaparan silsilah ini menunjukkan segi komunitas adanya pertalian darah universal di antara seluruh manusia. Salah satu di antaranya adalah Yesus Kristus. Dengtan kata lain, silsilah itu mau menyatakan bahwa di dalam dan melalui benih yang terkandung dalam rahim Maria, semua manusia, pria dan wanita, memiliki pertalian darah sebagai saudara dan saudari, dan karenanya mewarisi rahmat keselamatan yang sama.

2. Teologi, Misiologi dan Ekklesiologi konteks Indonesia (Perspektif Gereja Katolik)

Untuk memahami teologi, misiologi dan Eklesiologi dalam konteks Indonesia, maka kita perlu melihat sejarah awal sebagai tonggak penting. Tinjauan historis ini difokuskan pada karya misi di Jawa (Muntilan) karena dari sana dapat diperlihatkan bagaimana Teologi, Misiologi dan Ekklesiologi Gereja Katolik mulai dibangun.
Di penghujung abad XIX dikirimlah tiga misionaris untuk membuka atau memulai karya misi di Jawa. Ketiga misionaris itu antara lain: Romo van Lith, Romo Hoevenaars dan Romo Engbers. Ketiganya adalah misionaris Jesuit. Ketiga misionaris ini memiliki visi misiologis yang berbeda. 

a. Baptisan
Romo Hoevenaars lebih memperhatikan pembentukan komunitas Kristen. Perhatiannya terfokus pada membabtis orang Jawa, membawa orang Jawa masuk Kristen. Sedangkan Romo Van Lith memperhatikan pada kondisi sosial–ekonomi. Perbedaan teologi ini tidak hanya terjadi pada kedua misionaris, tetapi mencerminkan dua teologi yang ada diantara para misionaris yang bekerja di Indonesia. Boleh dikatakan, Menurut Romo Hoevanaars keberhasilan karya misi diukur dari jumlah babtisan dan Romo van Lith tidak dapat memperlihatkan harapan tersebut.

b. Persoalan Doa Bapa kami
Kedua misionaris di atas masing-masing menggunakan terjemahan doa Bapa kami dengan versi yang berbeda. Perbedaan ini menimbulkan kebingungan di antara umat. Di sini terdapat perbedaan teologi di antara keduanya. Romo Hoevanaars berpendapat bahwa dalam tradisi Gereja Katolik doa itu diterjemahkan secara harafiah. Sedangkan Romo van Lith berpandangan bahwa doa itu haruslah berpangkal pada konsep dan perasaan orang Jawa. Menurut Romo van Lith doa Bapa kami bukan hanya men-jawa-kan doa Bapa kami yang berbahasa Belanda. Doa haruslah mengungkapakan bagaimana orang Jawa itu menyapa Allah mereka sebagai bapa dan raja.

c. Pendidikan Pribumi di Muntilan
Salah satu fokus karya dari para misionaris pada periode awal adalah mendirikan sekolah bagi masyarakat pribumi. Di sini bagaimana para misionaris memperjuangkan masa depan dan mengangkat pribumi dan sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat pribumi yang memang menginginkan pendidikan. Beberapa tahun kemudian para misionaris membuka banyak sekolah di berbagai tempat.

d. Pandangan terhadap budaya dan adat kebiasaan Jawa
Hampir sebagian besar para misionaris beroposisi dengan Romo van Lith. Rupanya Romo van Lith dituduh mengabaikan soal-soal teologi dan disiplin gerejani. Di pihak lain Romo van Lith berulang-ulang menekankan bahwa ia tidak berawal dari permasalahan teologis-sakramental tetapi lebih dari penyelesaian prktis-pastoral baik itu menyangkut adat kebiasaan maupun perkawinan Jawa-Katolik.
Ada beberapa alasan yang mendasar pandangan Romo van Lith. Misalnya: di dalam hal perkawinan, terdapat pandangan yang amat jauh berbeda antara Jawa dan Kristen: pandagan perkawinan Katolik masih terlalu tinggi bagi orang Jawa. Di jawa perkawinan adalah sola jual-beli, urusan orang tua dan tidak memiliki nilai sakral. Jangan menuntut sesuatu yang radikal dari mereka.
Soal sunat dan adat kebiasaan Jawa tidak luput dari diskusi. Bolehkah orang Jawa-Katolik melakukan sunat? Masih bolehkan orang Jawa melakukan adat kebiasaan Jawa, seperti slametan dan kenduren? Menurut Romo van Lith, dalam hal ini bukan soal boleh atau tidak boleh, tetapi lebih pada strategi pastoral. Soal sunat dan adat kebiasaan bukan masalah teologi tetapi lebih pada masalah budaya. Di Jawa, sunat yang diartikan sebagai ngislamake baru muncul setelah agama islam masuk. Maka sunat sejauh tidak dipahami sebagai ‘pengislaman’ praktek sunat tidak perlu dilarang. Demikian soal adat kebiasaan. Di Jawa, adat itu memiliki fungsi sosial yang tinggi karena itu orang Jawa amat terikat pada kebiasaan itu. Romo van Lith selalu menekankan berkali-kali bahwa menjadi katolik tidak berarti harus meninggalkan identitas kejawaan mereka. Menurut Romo van Lith berhadapan dengan persoalan budaya, para misionaris perlu belajar banyak supaya tidak menyinggung perasaan religius dan budaya orang-orang Jawa. 

Dari pergulatan para misionaris tersebut di atas dapat diberi bingkai teologi macam apakah yang telah mereka tanamkan di Indonesia. Ada beberapa macam dari teologi itu masih relevan untuk konteks Indonesia saat ini, antara lain:
1. Teologi yang dominan dalam konteks historis yang dibahas di atas tentu saja teologi Eropa khususnya Belanda. Bagi mereka menjadi katolik berarti menanggalkan kultur lokal (Jawa). Namun dalam jangka panjang rupanya pandangan teologi Romo van Lith lah yang ternyata bertahan. 
2. Romo van Lith benar-benar kompeten dalam memahami sejarah, budaya, bahasa dan mentalitas orang Jawa. Dipadukan dengan rasa cintanya kepada pribumi, ia mampu memilah-milah persoalan dengan lebih tajam. Banyak orang Jawa yang menerima pewartaan injil sekaligus memperlihatkan bahwa pendekatan budaya yang dipakai Romo van Lith justru membuat pribumi tidak diasingkan dari lingkungan hidup mereka. Kekristenan dapat dihidupi dalam konteks budaya yang sama sekali berbeda dari latarbelakang hidup yang dibawa para misionaris.
3. Menguasai bahasa lokal untuk dapat memasuki hati pribumi menjadi tuntutan. Dalam hal ini tidak lagi orang Yunani atau Yahudi, orang bersunat atau orang tidak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu (Kol 3:11) menjadi ekklesiologi yang coba dibangun oleh para misionaris.

4. Dialog antarumat beragama
Fakta keragaman agama di Indonesia, maka dialog terus-menerus merupakan suatu keharusan bagi semua agama. Dialog di sini bukanlah berdebat, tetapi saling mendengar dan menghargai keperbedaan, terbuka dan simpatik. Dalam dialog ini semua agama bergandengan tangan untuk membangun dunia, dimana supaya Allah menjadi yang pertama dalam membantu dan mensejahterakan umat manusia. Dialog yang sejati adalah sebuah petualangan yang saling memperkaya justru karena segala perbedaan yang dimiliki. Dialog berarti berbagi nilai dan membuka diri.
5. Konsep hidup Bertetangga (Neighborology) dan Pro-existence
Konsep hidup bertetangga dan pro-existence seharusnya menjadi pergumulan Gereja atau orang Kristiani. Artinya bagaimana Gereja membangun hidup bertetangga dengan damai, santun, saling menghormati, dan sebagainya. Juga membangun hidup pro-existence artinya bukan saja hanya tinggal bersama antara penduduk yang berbeda, tetapi tinggal bersama yang disertai senyuman, sapaan, uluran tangan dan kesediaan untuk bergandeng tangan dan bekerjasama. 
6. Teologi Pembebasan
Problem yang sampai sekarang dihadapi masyarakat Indonesia adalah persoalan ekonomi. Maka teologi Pembebasan paling tidak dapat menjawab kenyataan ini. Dalam Lukas 4:18-21 dikatakan: “Roh Tuhan ada padaKu oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang”. Dasar teologis pengurapan adalah bagi suatu panggilan misi. Dalam hal ini Bagaimana Gereja solider dengan orang miskin, menyapa dan membantu mereka untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Dalam teks ini juga mau membebaskan manusia yang lemah dari perlakuan diskriminatif sesamanya.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment